Dari Pasar hingga Parlemen, Vera Yulianti Bicara soal Beban Nyata 'Kartini Modern'
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Vera Yulianti.-(Disway Kaltim/ Salsa)-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Peringatan Hari Kartini setiap 21 April tak lagi hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan kota yang semakin cepat, perjuangan perempuan hari ini dinilai hadir dalam bentuk yang lebih nyata.
Salah satunya dengan menjaga dapur tetap menyala, mencari tambahan penghasilan, membesarkan anak, sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Di Balikpapan, capaian pembangunan perempuan menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan Kota Balikpapan pada 2024 mencapai 79,59, tertinggi di antara kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Namun di balik capaian itu, tantangan yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari masih nyata, mulai dari urusan ekonomi rumah tangga, akses kerja, hingga fasilitas publik yang aman dan layak.
BACA JUGA: Jejak Perjuangan Kartini Masih Lestari, Jadi Semangat Emansipasi
Bagi Vera Yulianti, perempuan Balikpapan masih menghadapi beban yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari sulitnya akses modal usaha, harga kebutuhan pokok yang naik turun, terbatasnya peluang kerja, hingga minimnya fasilitas publik yang ramah perempuan dan anak.
Sebagai anggota Komisi II DPRD Kota Balikpapan, ia menilai pemberdayaan perempuan harus dimulai dari kemandirian ekonomi.
Salah satu persoalan yang masih banyak ditemui adalah pelaku usaha perempuan yang kesulitan mengembangkan usaha karena terkendala modal dan agunan.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat program penjaminan kredit agar perempuan yang tidak memiliki jaminan tetap bisa mengakses pembiayaan usaha.
BACA JUGA: Sekprov Kaltim Ajak Perempuan Jadikan Momentun Hari Kartini Jadi Titik Balik Pemberdayaan Diri
Selain itu, pelaku UMKM perempuan juga perlu didorong masuk ke ekosistem digital agar memiliki rekam jejak usaha yang memudahkan akses keuangan.
"Banyak perempuan punya kemampuan berusaha, tetapi terbentur modal. Karena itu perlu ada skema penjaminan kredit dan pendampingan yang serius agar usaha mereka bisa tumbuh," ucap Vera saat diwawancara Nomorsatukaltim, pada Selasa 21 April 2026.
Ia menuturkan, akses modal tidak cukup hanya dengan pinjaman. Literasi keuangan dan pendampingan usaha juga harus berjalan seiring agar pelaku UMKM mampu mengelola keuangan, memperluas pasar, dan bertahan di tengah persaingan.
Sejalan dengan itu, sektor usaha kecil masih menjadi penopang ekonomi daerah. Publikasi Profil Industri Mikro dan Kecil Kalimantan Timur 2024 menunjukkan usaha mikro dan kecil tetap berperan penting dalam menyerap tenaga kerja serta menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
