Kuatnya Mitos di Daerah jadi Kendala, Vaksin BCG Kerap Ditolak Masyarakat
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati.-Sakiya Yusri-Disway Kaltim
KUTAI TIMUR, NOMORSATUKALTIM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan cakupan imunisasi dasar pada bayi dan anak.
Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah penolakan vaksin akibat mitos dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian khusus karena berdampak langsung pada perlindungan kesehatan anak sejak usia dini.
Menurut Yuwana, salah satu jenis imunisasi yang paling sering mendapat penolakan adalah vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG), yang seharusnya diberikan kepada bayi baru lahir sebagai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis (TBC).
BACA JUGA:Pemkab Kutim Siap Luncurkan Sekolah Lansia, Mulai 2026 Fokus di Sangatta Utara
“Terutama imunisasi BCG untuk bayi yang baru lahir. Itu sangat penting karena fungsinya untuk mencegah penyakit TBC,” kata Yuwana.
Ia menjelaskan, penolakan vaksin BCG umumnya dipengaruhi oleh faktor budaya yang masih kuat di sejumlah wilayah di Kutim.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa bayi berusia di bawah dua bulan tidak boleh mengalami tindakan yang dianggap melukai tubuh.
“Masih ada anggapan bahwa bayi kecil tidak boleh disuntik atau dilukai. Akhirnya orang tua memilih menolak imunisasi tersebut,” ujarnya.
BACA JUGA:Dewan Pendidikan Kaltim Sayangkan Skema PJLP Jadi Solusi Krisis Guru di Bontang
Kondisi ini berdampak pada rendahnya capaian imunisasi di beberapa wilayah dan berpotensi memicu munculnya kembali penyakit yang seharusnya dapat dicegah sejak dini.
“Kalau imunisasinya tidak lengkap, tentu risikonya besar. Penyakit yang seharusnya bisa dicegah justru bisa muncul kembali,” jelasnya.
Selain faktor budaya, Dinkes Kutim juga mencatat adanya penolakan imunisasi yang dipengaruhi oleh isu keagamaan.
Hal ini kerap mencuat saat terjadi kasus penyakit menular seperti campak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

