Termakan Hoax, Vasektomi untuk Laki-Laki di Kubar Sangat Rendah
Ilustrasi pria lakukan vasektomi.--
KUBAR, NOMORSATUKALTIM - Metode kontrasepsi pria berupa vasektomi atau metode operasi pria (MOP) masih rendah diterapkan di Kubar. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kutai Barat
Catatan DP3AKB Kubar, sejak 2023 hingga 2024, hanya tiga orang laki-laki yang bersedia menjalani prosedur tersebut.
Pejabat Fungsional Penata KKB DP3AKB Kutai Barat, Arbayanti, mengakui rendahnya partisipasi kaum laki-laki dalam program ini.
Menurutnya, meski berbagai upaya sosialisasi dan penyuluhan telah dilakukan, antusiasme masyarakat, khususnya pria, masih sangat minim.
"Alasan utama yang muncul adalah memang mereka tidak berminat mengikuti program ini,” jelas Arbayanti saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/9/2025).
BACA JUGA:Akhirnya Program MBG Sampai ke Kubar, 823 Siswa SMAN 2 Sendawar Nikmati Makan Gratis
Arbayanti menuturkan, sosialisasi mengenai vasektomi sebenarnya telah rutin dilakukan. Baik melalui penyuluhan langsung maupun dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Namun, lagi-lagi tingkat kemauan pria untuk menjadi peserta KB masih jauh dari harapan.
Salah satu faktor penghambat terbesar adalah masih tingginya kekhawatiran pria terhadap dampak vasektomi. Banyak yang beranggapan prosedur tersebut bisa mengurangi vitalitas atau menurunkan gairah seksual.
Menurut Arbayanti, hal itu adalah kesalahpahaman yang masih melekat kuat di masyarakat.
BACA JUGA:Kutai Barat Target Pendapatan Rp3,30 Triliun di RAPBD 2026, Alokasi Terbesar untuk Biaya Operasional
“Tingkat ketakutan laki-laki sangat tinggi. Mereka khawatir dengan ikut vasektomi nanti akan mengurangi libidonya, padahal tidak benar. Vasektomi tidak akan memengaruhi gairah seksual. Justru dalam banyak kasus, libido tetap sama bahkan bisa lebih meningkat. Persepsi negatif ini yang harus diluruskan,” jelasnya.
Ia menambahkan, vasektomi sebenarnya ditujukan bagi keluarga yang sudah merasa cukup dengan jumlah anak.
Program ini bisa menjadi bentuk partisipasi laki-laki agar perencanaan keluarga tidak hanya menjadi beban istri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

